www.Kioscasino.org

Kamis, 27 Juni 2019

Biji Peler Ku Di Sikat Istri Pak RT

Penuh Basah

Biji Peler Ku Di Sikat Istri Pak RT

Aku adalah anak tunggal di keluargaku. Namaku Evan. Umurku waktu itu 17 tahun. Aku siswa sebuah SMU Swasta dikotaku. Bapakku adalah seorang pengusaha menengah yang cukup sibuk, dia sering pergi keluar kota untuk waktu yang tidak tentu.Ibuku juga sering ikut bersamanya. Aku tinggal dilingkungan Perumahan kelas menengah. Di sebelah rumahku adalah rumah Pak RT, orang yang cukup berpengaruh disana. Umurnya sekitar 60 tahun. tapi masih kelihatan gagah. Pak RT mempunyai dua orang istri.

Yang pertama namanya Tante Lisa, wanita keturunan arab, kulitnya hitam manis, bodinya langsing. Meskipun usianya sudah 40-an, Tante Lisa masih kelihatan cantik, dia sangat pintar merawat diri.



Dengan Tante Lisa, Pak RT mempunyai 2 orang putri yang cantik-cantik, yang sulung namanya Dina sedangkan adiknya namanya Dini, umur keduanya hampir sebaya denganku. Istri keduanya namanya Tante Eva, usianya sekitar 30an, orang Bandung, kulitnya putih mulus. Wajahnya mirip bintang sinetron Titi Kamal. Bodynya aduhai, montok, padat berisi.

Mungkin karena dia sering fitness, apalagi Tante Eva senang berpakaian sexy yang menonjolkan lekuk-lekuk tubuhnya. Membuat laki-laki yang memandangnya terangsang dan ngeres. Tante Eva orangnya supel dan pintar bergaul, sering dia ngobrol-ngobrol dengan anak muda seumurku, termasuk aku.

Kejadian ini bermula ketika orang tuaku pergi seminggu keluar kota untuk keperluan bisnisnya. Aku ditinggal sendirian dirumah. Sedangkan pembantuku dipecat ibuku 3 hari sebelumnya karena ketahuan mencuri uang ibuku. aku yang sendirian merasa kesepian. Aku duduk diruang tamu sambil berkhayal.

Untuk menghilangkan kesepianku, kuputar VCD porno yang baru aku pinjam dari temanku. Filmnya tentang seorang cewek bule yang sedang disetubuhi 2 orang negro. 1 orang negro sedang dikulum kontolnya, sedangkan yang satunya lagi sedang ngentot cewek bule itu dari belakang dengan posisi nungging.

Sekitar 20 menit mereka berganti posisi, satu orang negro sedang rebahan diranjang sambil memasukkan kontolnya kelubang anus cewek bule itu, yang telentang diatasnya. Sedangkan negro yang satunya lagi sedang menggenjot vagina cewek itu.

Penuh Basah

Desahan dan erangan mereka membuatku terangsang. Kuraba-raba celana pendekku (aku sudah tidak pakai celana dalam), kontolku mengeras. Semakin lama kuraba semakin keras. Kukocok-kocok naik turun. Birahiku memuncak ingin disalurkan, tapi aku tidak tahu harus kemana menyalurkannya.

“Lagi ngapain Evan?” suara seorang wanita mengejutkanku.

Ternyata Tante Eva sudah berdiri disamping pintu. Dia berpakaian sangat sexy, dengan kaos ketat dan rok super mini. Dia memandang kearah celanaku. Saking terkejutnya aku lupa menaikkan celanaku, sehingga dia dengan bebas bisa melihat kontolku yang sedang tegang penuh, mengacung-acung.

“Maaf.. maaf.. Tante” sahutku terbata-bata.

“Akh, nggak apa-apa kok, kamu khan udah gede”.

“Wah, kontolmu ok juga, udah pernah dimasukkin kevaginanya cewek belum?” tanyanya cuek.

“Be.. belum pernah Tante” sahutku.

“Mau nggak dimasukin ke punya Tante?, Tante pingin nih ngerasain kontolmu” katanya meminta.

Kemudian dia menutup pintu dan menguncinya. Dia berjalan mendekat kearahku. Duduk disampingku.

“Tapi saya belum pernah Tante” jawabku.

“Tante ajarin, mau khan?” katanya sedikit memaksa.

Penuh Basah

Biji Peler Ku Di Sikat Istri Pak RT

Tanpa menunggu jawabanku, dia menaikkan kedua kakinya kepangkuanku. Tangannya meraba-raba kontolku, aku gemetar. Baru kali ini kontolku dipegang seorang wanita. Dia mendekatkan wajahnya kewajahku, diciumnya bibirku. Lidahku diisapnya.

Aku membalas isapannya. Lidahku dan lidahnya tumpang tindih saling isap. sesekali isapannya diarahkan keleherku. ditariknya tanganku, diletakannya dikedua buah dadanya yang sudah mengeras. Kuremas-remas buah dadanya, dia menggelinjang keenakan.

Kutarik kaos ketatnya, aku terperangah, dia tidak memakai BH, buah dadanya padat dan kenyal. Kulepaskan isapan lidahnya, kuisap buah dadanya, dia melenguh, sambil tangannya terus mengocok-ngocok kontolku.

Beberapa menit berlalu, dia berdiri, lalu melepaskan rok mininya. Maka terpampanglah pemandangan yang luar biasa. Aku bisa melihat dengan jelas vaginanya yang merah merekah, sangat indah. dicukur rapi dan bersih.

Kemudian dia berlutut dilantai, dihadapanku. Wajahnya didekatkan keselangkanganku. Ditariknya celana pendekku. Bibirnya mendekati kepala kontolku, dan mulai menjilati kepala kontolku, terus kepangkalnya.

“Akkh.. aow.. oohh.. nikmat Tante, enakk.. sekali” aku mengerang ketika dia mulai mengulum kontolku.

Hampir seluruh batang kontolku masuk kemulutnya yang sexy. Kontolku keluar masuk dimulutnya. Nikmat sekali. Tak ketinggalan, buah pelirkupun diseruputnya. Puas mengulum kontolku, kemudian Tante Eva berdiri dihadapanku.

Vaginanya berada pas diwajahku. Dia menarik kepalaku, mendekatkannya pada vaginanya. Aku mengerti maksudnya, minta dijilati vaginanya. Kujulurkan lidahku. Aku mulai dengan menjilati pangkal pahanya, terus mendekati bibir vaginanya.

“Aow.. oohh.. nikmat.. sayang, teruss.. terus” dia mendesah-desah ketika aku memasukkan lidahku ke lubang vaginanya.



Kusedot-sedot, kugigit-gigit kelentitnya. Dijepitnya kepalaku. Hampir seluruh isi vaginanya kujilati, vaginanya basah.

“Akkhh.. akuu.. nggak kuatt.. sayang, kita mulai aja” ajaknya.

Dia menurunkan tubuhnya perlahan-lahan kepangkuanku. Dipegangnya kontolku, diarahkannya tepat kelubang vaginanya. Dia mulai memasukkan kontolku sedikit demi sedikit. Semakin lama semakin dalam. Sudah setengah batang kontolku masuk. Sampai disini dia berhenti sejenak mengatur posisi.

Kakinya berlutut disofa. Aku tak mau ketinggal, kuambil kesempatan. Kusodokkan kontolku. Dia menjerit ketika kontolku amblas dilubang vaginanya. Dia mulai menaik turunkan pantatnya dipangkuanku. Kontolku serasa dijepit dan dipijit-pijit lubang vaginanya yang sempit.

Penuh Basah

“Gimana sayang enak khan?” tanyanya.

“Enakk sekali Tante, vagina Tante sempit sekali” jawabku.

“Sudah lama sekali Tante tidak merasakannya sayang”.

“Pak RT tak pernah memberiku kepuasan” dia menggerutu.

“Emangnya Pak RT impoten Tante?” tanyaku.

“Iya, iya sayang” jawabnya singkat.

Kupeluk pinggangnya erat-erat. Bibirku menghisap-hisap buah dadanya. Kubantu gerakkannya dengan menyodok-nyodokan pantatku keatas. Dia mengerang-erang merasakan nikmat.

Matanya merem melek. Semakin lama semakin cepat dia menggerak-gerakkan pantatnya, sesekali pantatnya diputar-putar. Aku merasakan nikmat yang tiada tara. Kontolku serasa dipelintir vaginanya. Sudah sekitar 30 menit kami berpacu dalam kenikmatan. Nafasnya dan nafasku saling memburu. Peluh kami bercucuran.

“Akh.. oohh.. aku tidak kuat sayang, akuu.. mauu.. keluarr” dia menjerit-jerit.

Kurasakan vaginanya berkedut-kedut.

“Akuu.. juga Tante” sahutku ngos-ngosan.

“Keluarin didalem aja sayang, aku ingin punya anak darimu” pintanya memelas.

Crott! Crott! Crott! Aku menumpahkan sperma yang sangat banyak di lubang vaginanya.

“Kamu puas khan sayang?” tanyanya.

“Puas sekali Tante” sahutku pendek.

Kami beristirahat sejenak. Kemudian kekamar mandi untuk membersihkan badan. Siraman air membuat badanku segar kembali.

“Aku pingin lagi sayang, kamu mau khan?” tanyanya meminta.

Penuh Basah

Aku tidak menjawabnya. Kubopong tubuhnya, kubawa kekamarku dan kurebahkan diranjangku. aku merangkak diatas tubuhnya dengan posisi 69. Selangkanganku berada diatas wajahnya, sedangkan wajahku tepat diatas vaginanya.

Aku mulai menjilati dinding vaginanya. Dia menggerinjal-gerinjal dan menjepit kepalaku. Seluruh dinding vaginanya kujilati. Kucari-cari tititnya. Kusedot-sedot dengan lidahku. Sesekali kugigit. Dia meringis.

Biji Peler Ku Di Sikat Istri Pak RT

Dengan jari-jariku kutusuk-tusuk lubang anusnya. Sesekali kujilati lubang anusnya. Tante Eva tak mau ketinggalan. Dia menjilati kontolku, dari kepala sampai pangkal kontolku tak luput dari jilatannya.

Sstt! Aku mendesah ketika dia mengulum kontolku. Dia sangat lihai memainkan lidahnya. Kontolku yang tadi mengecil, sedikit demi sedikit mengeras didalam mulutnya. luar biasa kenikmatan yang kudapatkan. Tante Eva memang benar-benar profesional. Seluruh batang kontolku dijilatinya.

“Oohh.. aku tidak tahan sayang, kita mulai aja” pintanya.

Kuturunkan tubuhku dari tubuhnya. Aku berdiri dipinggir ranjang. Kutarik tubuhnya kepinggir, hingga kedua kakinya menjuntai. Aku mendekatkan kontolku kelubang vaginanya. Sedikit demi sedikit kontolku masuk kelubang vaginanya. Sstt! Dia mendesis. Sudah seluruh batang kontolku amblas ditelan lubang vaginanya yang basah dan memerah.

Kugoyang-goyangkan pantatku. Tante Eva membantuku dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. aku merasakan sensasi yang luar biasa. 10 menit berlalu, kuganti posisi. Kutarik kontolku. Kakinya kunaikkan keduanya. Aku memasukkannya lagi. Dan mulai menggenjotnya.

“Akhh.. akuu.. mauu.. keluarr.. sayang” dia mengerang.

Vaginanya berkedut-kedut. Vaginanya menjepit kontolku.

“Akhh.. aku keluarr.. sayang” dia melenguh.

kurasakan vaginanya basah oleh cairan. Tante Eva telah mencapai orgasme sedangkan aku belum apa-apa. Kubalikkan tubuhnya. Kuminta dia menungging. dia menuruti aja perintahku. Kudekatkan kontolku yang masih tegang ke lubang anusnya.

“Kamu mau apain anusku sayang” tanyanya ketika kepala kontolku menyentuh lubang anusnya.

“Jangan, jangan di lubang itu sayang, sakit” teriaknya.

Aku tidak mempedulikannya. Kumasukkan kepala kontolku kelubang anusnya. Mulanya agak susah tapi akhirnya masuk juga. Kutekan pelan-pelan hingga seluruh batang kontolku amblas. Aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur. Kutusuk-tusuk lubang anusnya.

“Oohh.. enakk.. sayang, kamu pintar” pujinya ketika dia sudah mulai merasakan nikmatnya disodomi.

Sekitar 30 menit kontolku keluar masuk dilubang anusnya. Kurasakan kontolku berkedut-kedut.

“Akkhh.. aku mau keluarr.. Tante” aku berteriak histeris.

Penuh Basah

Crott! Crott! Crott! Kutumpahkan spermaku lubang anusnya. Kudiamkan beberapa saat. Lalu kutarik kontolku. Kuarahkan ke wajahnya. Kuminta dia menjilati spermaku. Dengan lahapnya Tante Eva menjilati sisa-sisa spermaku, sampai bersih dijilatinya. Tanpa rasa jijik sedikitpun.

“Kamu hebat sayang, aku puas sekali” pujinya.

“Kamu mau khan memberiku kepuasan seperti ini lagi?” pintanya.

Aku mengangguk aja. Menyetujui permintaannya.

“Kalo kamu pengin lagi, datang aja ke kamarku”.

“Masuknya lewat jendela ya! Kalo lampu kamarku mati, berarti Pak RT nggak di rumah”.

“Ketok kaca jendela tiga kali, akan kubukakan untukmu, OK” dia menerangkannya untukku.

Kurebahkan tubuhku disampingnya. Kami tertidur setelah mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Malam itu Tante Eva menginap dikamarku. Sampai pagi kami merengkuh kenikmatan.

Sejak saat itu, hampir setiap ada kesempatan kami bersetubuh. Berbagai macam gaya aku diajarinya. Kupikir kasihan juga Istri-istri Pak RT yang merana karena ketidakmampuan Pak RT memberikan kepuasan. Hingga istrinya berselingkuh.

IniDomino | Poker Domino QQ | Ceme Judi Domino QQ | Domino QQ Online | Agen Poker | Judi Poker | Poker Online | Agen BlackJack |

Share:

Rabu, 26 Juni 2019

Serunya Ngentotin Anak Majikan

Penuh Basah

Serunya Ngentotin Anak Majikan

Pertama aku kerja dan berangkat ke kota Jember tepatnya di perumahan daerah kampus. Aku terkagum-kagum dengan rumah juragan baruku ini, disamping rumahnya besar halamannya juga luas. Juraganku sebut saja namanya Pak Beni, Ia Jajaran direksi Bank ternama di kota Jember, Ia mempunya dua Anak Perempuan yang satu baru saja berkeluarga dan yang bungsu kelas 3 SMA namanya Kristin, usianya kira-kira 18 tahun.

Sedangkan istrinya membuka usaha sebuah toko busana yang juga terbilang sukses di kota tersebut, dan masih ada satu pembantu perempuan Pak Beni namanya Bik Miatun usianya kira-kira 27 tahun Teman Kristin banyak sekali setiap malam minggu selalu datang kerumah kadang pulang sampai larut malam, hingga aku tak bisa tidur sebab harus nunggu teman Non Kristin pulang untuk mengunci gerbang, kadang juga bergadang sampai pukul 04.00.

Mungkin kacapekan atau memang ngantuk usai bergadang malam minggu, yang jelas pagi itu kamar Non Kristin masih terkunci dari dalam. Aku nggak peduli sebab bagiku bukan tugasku untuk membuka kamar Non Kristin, aku hanya ditugasi jaga rumah ketika Pak Beni dan Istrinya Pergi kerja dan merawat tamannya saja.



Pagi itu Pak Beni dan Istrinya pamitan mau keluar kota, katanya baru pulang minggu malam sehingga dirumah itu tinggal aku, Bik Miatun dan Non Kristin. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 tapi Non Kristin masih belum bangun juga dan Bik Miatun sudah selesai memasak.

“Jono, aku mau belanja tolong pintu gerbang dikunci.”

“Iya Bik!” jawabku sambil menyiram tanaman didepan rumah. Setelah Bik Miatun pergi aku mengunci pintu gerbang.

Setelah selesai menyiram taman yang memang cukup luas aku bermaksud mematikan kran yang ada di belakang. Sesampai didepan kamar mandi aku mendengar ada suara air berkecipung kulihat kamar Non Kristin sedikit terbuka berarti yang mandi Non Kristin. Tiba-tiba timbul niat untuk mengintip.

Aku mencoba mengintip dari lubang kunci, ternyata tubuh Non Kristin mulus dan susunya sangat kenyal, kuamati terus saat Non Kristin menyiramkan air ke tubuhnya, dengan perasaan berdegap aku masih belum beranjak dari tempatku semula. Baru pertama ini aku melihat tubuh perempuan tanpa tertutup sehelai benang. Sambil terus mengintip, tanganku juga memegangi penisku yang memang sudah tegang, kulihat Non Kristin membasuh sabun keseluruh badannya aku nggak melewatkan begitu saja sambil tanganku terus memegangi penis.

Penuh Basah

Aku cepat-cepat pergi, sebab Non Kristin sudah selesai mandinya namun karena gugup aku langsung masuk ke kamar WC yang memang berada berdampingan dengan kamar mandi, disitu aku sembunyi sambil terus memegangi penisku yang dari tadi masih tegang.

Cukup lama aku di dalam kamar WC sambil terus membayangkan yang baru saja kulihat, sambil terus merasakan nikmat aku tidak tahu kalau Bik Miatun berada didepanku. Aku baru sadar saat Bik Miatun menegurku,

“Ayo.. ngapain kamu.”

Aku terkejut cepat-cepat kututup resleting celanaku, betapa malunya aku.

“Ng.. nggak Bik..” kataku sambil cepat-cepat keluat dari kamar WC. Sialan aku lupa ngunci pintunnya, gerutuku sambil cepat-cepat pergi.

Esoknya usai aku menyiram taman, aku bermaksud ke belakang untuk mematikan kran, tapi karena ada Bik Miatun mencuci kuurungkan niat itu.

“Kenapa kok kembali?” tanya Bik Miatun.

“Ah.. enggak Bik..” jawabku sambil terus ngeloyor pergi.

“Lho kok nggak kenapa? Sini saja nemani Bibik mencuci, lagian kerjaanmu kan sudah selesai, bantu saya menyiramkan air ke baju yang akan dibilas,” pinta Bik Miatun.

Penuh Basah

Akhirnya akupun menuruti permintaan Bik Miatun. Entah sengaja memancing atau memang kebiasaan Bik Miatun setiap mencuci baju selalu menaikkan jaritnya diatas lutut, melihat pemandangan seperti itu, jantungku berdegap begitu cepat

“Begitu putihnya paha Bik Miatun ini” pikirku, lalu bayanganku mulai nakal dan berimajinasi untuk bisa mengelus-ngelus paha putih Bik Miatun.

“Heh! kenapa melihat begitu!” pertanyaan Bik Miatun membuyarkan lamunanku

“Eh.. ngg.. nggak Bik” jawabku dengan gugup.

“Sebentar Bik, aku mau buang air besar” kataku, lalu aku segera masuk kedalam WC, tapi kali ini aku tak lupa untuk mengunci pintunya.

Serunya Ngentotin Anak Majikan

Didalam WC aku hanya bisa membayangkan paha mulus Bik Miatun sambil memegangi penisku yang memang sudah menegang cuma waktu itu aku nggak merasakan apa-apa, cuma penis ini tegang saja. Akhirnya aku keluar dan kulihat Bik Miatun masih asik dengan cucianya.

“Ngapain kamu tadi didalam Jon?” tanya Bik Miatun.

“Ah.. nggak Bik cuma buang air besar saja kok,” jawabku sambil menyiramkan air pada cuciannya Bik Miatun.

“Ah yang bener? Aku tahu kok, aku tadi sempat menguntit kamu, aku penasaran jangan-jangan kamu melakukan seperti kemarin ee..nggak taunya benar,” kata Bik Miatun

“Hah..? jadi Bibik mengintip aku?” tanyaku sambil menunduk malu.

Tanpa banyak bicara aku langsung pergi.

“Lho.. kok pergi?, sini Jon belum selesai nyucinya, tenang saja Jon aku nggak akan cerita kepada siapa-siapa, kamu nggak usah malu sama Bibik ” panggil Bik Biatun. Kuurungkan niatku untuk pergi.

Penuh Basah

“Ngomong-ngomong gimana rasanya saat kamu melakukan seperti tadi Jon?” tanya Bik Miatun.

“Ah nggak Bik,”jawabku sambil malu-malu.

“Nggak gimana?” tanya Bik Miatun seolah-olah mau menyelidiki aku.

“Nggak usah diteruskan Bik aku malu.”

“Malu sama siapa? Lha wong disini cuma kamu sama aku kok, Non Kristin juga sekolah, Pak Beny kerja?” kata Bik Miatun.

“Iya malu sama Bibik, sebab Bibik sudah tahu milikku,” jawabku.

“Oalaah gitu aja kok malu, sebelum tahu milikmu aku sudah pernah tahu sebelumnya milik mantan suamiku dulu, enak ya?” “Apanya Bik?” tanyaku.


“Iya rasanya to..?” gurau Bik Miatun tanpa memperdulikan aku yang bingung dan malu padanya.

“Sini kamu..” kata Bik Miatun sambil menyuruhku untuk mendekat, tiba-tiba tangan tangan Bik Miatun memegang penisku.

“Jangan Bik..!!” sergahku sambil berusaha meronta, namun karena pegangannya kuat rasanya sakit kalau terus kupaksakan untuk meronta.

Akhirnya aku hanya diam saja ketika Bik Miatun memegangi penisku yang masih didalam celana pendekku. Pelan tapi pasti aku mulai menikmati pegangan tangan Bik Miatun pada penisku. Aku hanya bisa diam sambil terus melek merem merasakan nikmatnya pegangan tangan Bik Miatun. lalu Bik Miatun mulai melepas kancing celanaku dan melorotkanya kebawah. Penisku sudah mulai tegang dan tanpa rasa jijik Bik Miatun Jongkok dihadapanku dan menjilati penisku.

“Ach.. Bik.. geli,” kataku sambil memegangi rambut Bik Miatun.

Bik Miatun nggak peduli dia terus saja mengulum penisku, Bik Miatun berdiri lalu membuka kancing bajunya sendiri tapi tidak semuanya, kulihat pemandangan yang menyembul didepanku yang masih terbungkus kain kutang dengan ragu-ragu kupegangi. Tanpa merasa malu, Bik Miatun membuka tali kutangnya dan membiarkan aku terus memegangi susu Bik Miatun, dia mendesah sambil tangannya terus memegangi penisku. Tanpa malu-malu kuemut pentil Bik Miatun.

“Ach.. Jon.. terus Jon..”

Aku masih terus melakukan perintah Bik Miatun, setelah itu Bik Miatun kembali memasukkan penisku kedalam mulutnya. aku hanya bisa mendesah sambil memegangi rambut Bik Miatun.

“Bik aku seperti mau pipis,” lalu Bik Miatun segera melepaskan kulumannya dan menyingkapkan jaritnya yang basah, kulihat Bik Miatun nggak memakai celana dalam.

“Sini Jon..,” Bik Miatun mengambil posis duduk, lalu aku mendekat.

“Sini.. masukkan penismu kesini.” sambil tangannya menunjuk bagian selakangannya.

Dibimbingnya penisku untuk masuk ke dalam vagina Bik Miatun.

“Terus Jon tarik, dan masukkan lagi ya..”

“Iya Bik” kuturuti permintaan Bik Miatun, lalu aku merasakan seperti pipis, tapi rasanya nikmat sekali.

Setelah itu aku menyandarkan tubuhku pada tembok.

“Jon.. gimana, tahu kan rasanya sekarang?” tanya Bik Miatun sambil membetulkan tali kancingnya.

“Iya Bik..”jawabku.

Esoknya setiap isi rumah menjalankan aktivitasnya, aku selalu melakukan adegan ini dengan Bik Miatun. Saat itu hari Sabtu, kami nggak nyangka kalau Non Kristin pulang pagi. Saat kami tengah asyik melakukan kuda-kudaan dengan Bik Miatun, Non Kristin memergoki kami.

” Hah? Apa yang kalian lakukan! Kurang ajar! Awas nanti tak laporkan pada papa dan mama, kalian!”

Melihat Non Kristin kami gugup bingung, “Jangan Non.. ampuni kami Non,” rengek Bik Miatun.

“Jangan laporkan kami pada tuan, Non.”

Penuh Basah

Akupun juga takut kalau sampai dipecat, akhirnya kami menangis di depan Non Kristin, mungkin Non Kristin iba juga melihat rengekan kami berdua.

“Iya sudah jangan diulangi lagi Bik!!” bentak Non Kristin.

“Iy.. iya Non,” jawab kami berdua.

Esoknya seperti biasa Non Kristin selalu bangun siang kalau hari minggu, saat itu Bik Miatun juga sedang belanja sedang Pak Beny dan Istrinya ke Gereja, saat aku meyirami taman, dari belakang kudengar Non Kristin memanggilku,

“Joon!! Cepat sini!!” teriaknya.

“Iya Non,” akupun bergegas kebelakang tapi aku tidak menemukan Non Kristin.

“Non.. Non Kristin,” panggilku sambil mencari Non Kristin.

“Tolong ambilkan handuk dikamarku! Aku tadi lupa nggak membawa,” teriak Non Kristin yang ternyata berada di dalam kamar mandi.

“Iya Non.”

Akupun pergi mengambilkan handuk dikamarnya, setelah kuambilkan handuknya “Ini Non handuknya,” kataku sambil menunggu diluar.

“Mana cepat..”

“Iya Non, tapi..”

“Tapi apa!! Pintunya dikunci..”

Aku bingung gimana cara memberikan handuk ini pada Non Kristin yang ada didalam? Belum sempat aku berpikir, tiba-tiba kamar mandi terbuka. Aku terkejut hampir tidak percaya Non Kristin telanjang bulat didepanku.

“Mana handuknya,” pinta Non Kristin.

“I.. ini Non,” kuberikan handuk itu pada Non Kristin.

“Kamu sudah mandi?” tanya Non Kristin sambil mengambil handuk yang kuberikan.

“Be..belum Non.”

“Kalau belum, ya.. sini sekalian mandi bareng sama aku,” kata Non Kristin.

Belum sempat aku terkejut akan ucapan Non Kristin, tiba-tiba aku sudah berada dalam satu kamar mandi dengan Non Kristin, aku hanya bengong ketika Non Kristin melucuti kancing bajuku dan membuka celanaku, aku baru sadar ketika Non Kristin memegang milikku yang berharga.

“Non..,” sergahku.

“Sudah ikuti saja perintahku, kalau tidak mau kulaporkan perbuatanmu dengan Bik Miatun pada papa,” ancamnya.

Serunya Ngentotin Anak Majikan

Aku nggak bisa berbuat banyak, sebagai lelaki normal tentu perbuatan Non Kristin mengundang birahiku, sambil tangan Non Kristin bergerilya di bawah perut, bibirnya mencium bibirku, akupun membalasnya dengan ciuman yang lembut. Lalu kuciumi buah dada Non Kristin yang singsat dan padat. Non Kristin mendesah, “Augh..”

Kuciumi, lalu aku tertuju pada selakangan Non Kristin, kulihat bukit kecil diantara paha Non Kristin yang ditumbuhi bulu-bulu halus, belum begitu lebat aku coba untuk memegangnya. Non Kristin diam saja, lalu aku arahkan bibirku diantara selakangan Non Kristin.

“Sebentar Jon..,” kata Non Kristin, lalu Non Kristin mengambil posisi duduk dilantai kamar mandi yang memang cukup luas dengan kaki dilebarkan, ternyata Non Kristin memberi kelaluasaan padaku untuk terus menciumi vaginanya.

Melihat kesempatan itu tak kusia-siakan, aku langsung melumat vaginanya kumainkan lidahku didalm vaginanya.

“Augh.. Jon.. Jon,” erangan Non Kristin, aku merasakan ada cairan yang mengalir dari dalam vagina Non Kristin. Melihat erangan Non Kristin kulepaskan ciuman bibirku pada vagina Non Kristin, seperti yang diajarkan Bik Miatun kumasukkan jemari tanganku pada vagina Non Kristin. Non Kristin semakin mendesah, “Ugh Jon.. terus Jon..,” desah Non kristin. Lalu kuarahkan penisku pada vagina Non Kristin.

Bless.. bless.. Batangku dengan mudah masuk kedalam vagina Non Kristin, ternyata Non Kristin sudah nggak perawan, kata Bik Miatun seorang dikatakan perawan kalau pertama kali melakukan hubungan intim dengan lelaki dari vaginanya mengeluarkan darah, sedang saat kumasukkan penisku ke dalam vagina Non Kristin tidak kutemukan darah.

Kutarik, kumasukkan lagi penisku seperti yang pernah kulakukan pada Bik Miatun sebelumnya. “Non.. aku.. mau keluar Non.”

“Keluarkan saja didalam Jon..”

“Aggh.. Non.”

“Jon.. terus Jon..”

Saat aku sudah mulai mau keluar, kubenamkan seluruh batang penisku kedalam vagina Non Kristin, lalu gerkkanku semakin cepat dan cepat.

“Ough.. terus.. Jon..”
Penuh Basah

Kulihat Non Kristin menikmati gerakanku sambil memegangi rambutku, tiba-tiba kurasakan ada cairan hangat menyemprot ke penisku saat itu juga aku juga merasakan ada yang keluar dari penisku nikmat rasanya. Kami berdua masih terus berangkulan keringat tubuh kami bersatu, lalu Non Kristin menciumku.

“Terima kasih Jon kamu hebat,” bisik Non Kristin.

“Tapi aku takut Non,” kataku.

“Apa yang kamu takutkan, aku puas, kamu jangan takut, aku nggak akan bilang sama papa” kata Non Kristin. Lalu kami mandi bersama-sama dengan tawa dan gurauan kepuasan.

Sejak saat itu setiap hari aku harus melayani dua wanita, kalau di rumah hanya ada aku dan Bik Miatun, maka aku melakukannya dengan Bik Miatun. Sedang setiap Minggu aku harus melayani Non Kristin, bahkan kalau malam hari semua sudah tidur, tak jarang Non Kristin mencariku di luar rumah tempat aku jaga dan di situ kami melakukannya.


Menangkan Jackpotnya Di IniDewa
Live Chat IniDewa.Com

Link Daftar Klik Di Bawah ini
Daftar, Main Dan Menang Di IniDewa.com
Share:

Senin, 24 Juni 2019

Diajarin Ngentot Gaya Kuda Bersama Tante Nina

Penuh Basah

Diajarin Ngentot Gaya Kuda Bersama Tante Nina

Sebelumnya perkenalkan dulu nama saya Baim (Samaran), saya sekarang berprofesi sebagai seorang konsultan di Kota S. Bagi para pembaca yang memerlukan jasa konsultasi penulisan ilmiah (skripsi/thesis) bisa kontak e-mail saya, pasti akan saya bantu sampai selesai. Okay.. saya akan memulai menceritakan pengalaman saya waktu masih kuliah dahulu.

Hari itu adalah malam Jum’at Pon.. kira-kira 7 tahun yang lalu. Hari itulah awal yang merubah kehidupanku, dari seorang mahasiswa yang lurus-lurus saja.. pokoknya serba lurus deh! Apalagi kalau si kecil lagi tegang.. wah lurus sekali! Ha..ha..ha..

Waktu itu aku masih kuliah di satu-satunya PTN yang ada di kota S. Sebagai seorang anak rantau aku kost di belakang kampus yang cukup jauh dari keramaian. Pertimbanganku untuk memilih kost di tempat itu adalah di samping harganya murah, aku juga berharap dapat menghindari godaan keramaian yang ditawarkan kota S itu. Maklum misiku ke kota S ini adalah untuk menimba ilmu demi masa depan. Berkali-kali orang tuaku menyuruhku agar hidup prihatin.. karena mereka pun harus hidup prihatin demi menyekolahkanku.

Dengan memilih tempat itu rasanya aku sudah berusaha memenuhi permintaan orang tuaku, yaitu agar hidup prihatin. Namun ternyata nasib membawaku lain dan melenceng dari misi semula ini.



Sudah dua tahun aku kost di daerah itu, sehingga aku sudah kenal baik dengan semua masyarakat penghuni kampung itu. Aku sudah dianggap sebagai warga karena kesupelanku dalam bergaul. Nah dari kesupelanku itulah aku sudah terbiasa bercanda dengan setiap penduduk dari anak kecil hingga nenek-nenek.

Suatu hari pada saat liburan semester, aku tinggal di tempat kost sendiri karena memang aku tidak pulang maklum aku aktif di kegiatan kampus. Waktu itu sedang musim kemarau sehingga banyak sumur penduduk yang kering, hanya sumur di tempat kost ku itulah yang masih cukup banyak airnya sehingga banyak tetangga yang ikut minta air dan bahkan ikut mandi di kost-ku.

Dan diantara mereka ada satu tetanggaku yang waktu itu umurnya mungkin hanya terpaut 7 atau 8 tahun di atasku, namanya Tante Nina (samaran). Perawakannya sedang tidak begitu tinggi (tingginya sekitar 158 – 160 Cm), tetapi bodynya tidak kalah dengan pesenam aerobik deh. Kulitnya sawo matang khas wanita Jawa dan wajahnya manis sekali, terutama pada saat tersenyum.. aduh makk!

Dia sudah punya suami dan dua orang anak yang masih kecil yang pada saat itu umurnya baru 4 dan 2 tahunan. Dia berjualan barang-barang kelontong di dekat kost-ku. Nah suatu hari.. seperti biasa pagi pagi sekali Tante Nina ketok-ketok pintu tempat kost ku..biasa mau ikutan ambil air dan sekaligus mandi.

“Dik.. Dik.. cepet tolong bukain pintunya!” dia berteriak agak tak sabaran.

“Iya bentar Tante ..” jawabku sambil setengah mengantuk.

“Kok lama banget to Dik..” suaranya terdengar tak sabar.

“Ada apa sih Tante kok nggak sabar sekali?” tanyaku saat kubuka pintu untuknya.

Wajahnya nampak meringis menahan sesuatu. Rupanya dia sudah mulas dan hendak buang hajat dari tadi.

“Anu Dik.. aku sakit perut nih” Katanya agak malu.

Begitu pintu terbuka ia langsung lari terbirit-birit masuk KM dan membanting pintu. Rupanya sang beban sudah hampir keluar.. pikirku.

“Sorry ya Dik.. tadi Tante nggedor-nggedor”, katanya.

“Habis perut Tante udah mulas dan di rumah nggak ada air.. itu lho bapaknya anak-anak semalam enggak pulang jadi Tante belum sempat ngisi air di rumah.. maafin Tante ya”.

“Ah enggak apa-apa kok Tante , saya malah harus berterima kasih udah dibangunin sama Tante.”

Sejak itu hubunganku dengan Tante Nina jadi tambah akrab. Hingga pada suatu siang, aku ingat hari Kamis, Tante Nina datang ke tempat kostku. Siang itu ia kelihatan manis sekali dengan memakai baju kaos lengan panjang warna krem ketat yang mencetak tubuhnya.

“Eh Dik Baim.. hari ini ada acara enggak?” tanyanya begitu kutemui di teras depan.

“Mm.. kayaknya enggak Tante .. memang ada apa Tante ?” tanyaku agak penasaran.

“Anu Dik.. kalau tidak keberatan nanti adik Tante ajak pergi ke Gml mencari bapaknya anak-anak, Dik Baim enggak keberatan kan?”

“Lho memangnya Mas Gun disana di rumah siapa Tante ?” tanyaku semakin penasaran.

“Anu Dik.. katanya orang-orang Mas Gun sudah punya istri simpanan di sana.. jadi Tante mau melabrak.. tapi Tante nggak berani sendirian.. jadi Tante minta tolong Dik Baim nganter Tante ke sana”.

“Baiklah Tante .. tapi saya enggak mau ikut campur dengan urusan Tante lho” kataku menyanggupi permintaannya.

Sorenya kami berdua dengan sepeda motor milik Tante Nina berboncengan kearah Gml, + 27 KM sebelah utara kota S arah ke Pwd. Tante Nina membawa sebuah tas yang cukup besar. Aku jadi curiga, tetapi tetap diam saja.. pokoknya wait and see lah prinsipku. Kami tak banyak bicara saat dalam perjalanan. Hingga setelah sampai ke Gml aku baru bertanya letak rumahnya.

“Oh.. itu.. itu masih terus ke utara Dik..” jawabnya agak tergagap.

Kecurigaanku makin mendalam tetapi tetap diam saja sambil kuikuti permainannya.

“I’ll follow the game” begitu pikirku, toh tidak ada ruginya dengan wanita yang cukup menarik ini.

Kami terus ke utara hingga sampai ke tempat dimana terdapat gerbang bertuliskan “Obyek Wisata Gn Kmks”.

“Lho kok ke sini to Tante .. apa enggak kebablasan?” Tanyaku agak bingung.

“Anu.. anu sebenarnya Tante enggak mencari Mas Gun kok Dik.. tapi Tante mau ziarah ke sini..” Jawabnya agak khawatir kalau aku marah.

Aku kasihan juga melihatnya saat itu yang begitu ketakutan. Aku Cuma menghela napas.. tapi tidak ada ruginya kok bagiku. Toh Tante Nina orangnya cukup manis dan menarik jadi berlama-lama berdekatan dengannya juga tidak rugi pikirku menghibur diri.

Penuh Basah


Sigkat cerita aku dan Tante Nina mengikuti ritual yang harus dilakukan di sana. Ternyata bukan hanya kami berdua yang ada di sana. Ratusan bahkan mungkin ribuan orang datang ke sana sore itu. Semuanya mempunyai tujuan yang sama “Berziarah” (atau berzinah barangkali lebih tepatnya). Soalnya yang aku dengar kalau berziarah ke sana untuk mencari berkah harus berpasangan yang bukan suami-istri dan harus “Tidur” bersama di sekitar cungkup (makam) yang ada di sana. (Mungkin ini ritual mencari kekayaan yang paling nikmat di dunia.. he.. he.. he)!

Setelah mengikuti berbagai ritual dan prosesi, selesailah sudah acara mohon berkah. Sekarang tinggal ‘finishing’-nya, yaitu tidur bersama! Aku sendiri menjadi panas dingin membayangkan aku harus tidur dengan seorang wanita! Gila.. ini benar-benar pengalaman pertama bagiku. Seumur umur belum pernah berdekatan dengan wanita.. apalagi harus tidur bersama! Dan katanya harus 7 kali malam Jum’at berturut-turut pula! Gila! Benar-benar tur gila.. asyiik!

“Eh Dik Baim sudah punya pacar belum?” tanya Tante Nina memecah kesunyian.

“Eh.. mm. anu.. bbel.. belum Tante ” jawabku agak tergagap soalnya lagi ngelamun yang lain lagian pikiranku sedang bingung.

Tante Nina mungkin tahu apa yang kurasakan jadi dia Cuma diam saja dan menggandengku mencari tempat untuk menggelar tikar (Rupanya Tante Nina sudah mempersiapkan segalanya dari rumahnya.. sontoloyo makiku dalam hati, tapi aku juga senang juga membayangkan mau tidur dengan wanita semanis Tante Nina ini).

Rupanya mencari tempat yang “Sesuai” (dalam artian sepi dan aduhai) di sekitar cungkup pada malam itu susah juga. Aku yang baru kali itu mengunjungi Gn Kmks takjub sekali dengan pemandangan yang kulihat disana. Bukan keindahan alamnya yang kukagumi, tetapi begitu banyaknya pasangan yang memenuhi lokasi sekitar cungkup bak ikan bandeng dijajar-jajar. Gilanya semua mungkin bukan pasangan suami-istri yang sah (Kalau boleh kukatakan ini namanya “Perzinahan masal” bukannya “Perziarahan masal”). Cukup lama kami mencari tempat untuk bermalam di tempat terbuka. Rupanya malam Jum’at Pon ini adalah hari “Raya”-nya Gn Kmks.

Ramainya mungkin malah melebihi keramaian di Kota S. Dan semua pasangan itu rela “Tidur” bersama di tempat terbuka berjajar-jajar tanpa sekat pelindung yang membatasi privasi dengan pasangan lain di sebelahnya. Akhirnya setelah cukup lama mondar-mandir melewati jalan setapak nan gelap dan di kanan-kirinya bergelimpangan pasangan yang sedang melakukan “Laku” tidur bersama, kami menemukan tempat yang kami anggap ’sesuai’ bagi kami.

“Disini saja Dik Baim.. tempatnya masih longgar” kata Tante Nina sambil melepas gandengannya dan mulai menggelar tikar yang dibawanya. Di sebelah kanan dan kiriku ada pula pasangan yang sudah terlebih dahulu menempati kapling mereka. Jadi aku dan Tante Nina termasuk datang agak terlambat. Setelah basa-basi sejenak dengan tetangga kanan-kiri kami pun rebahan sambil berpelukan dalam gelap di tempat terbuka lagi.

Aku yang masih lugu tak tahu harus berbuat apa. Soalnya seumur-umur baru kali inilah aku memeluk seorang wanita dewasa. Tanganku diam saja sementara debar jantungku tak teratur. Tante Sum yang semula hanya memeluk, perlahan-lahan mulai mengelus dadaku salah satu pahanya ditumpangkannya di atas pahaku. Kontan saja batang kemaluanku mengeras.. tapi aku tak berani berbuat apa-apa. Saat itu kurasakan kalau tubuh bagian bawah Tante Nina terbungkus sarung, karena salah satu pahanya menindih pahaku.

Napasku semakin memburu dan jantungku berdebar kian keras saat ia mulai meraba-raba puting dadaku.

“Dik ikutan masuk sarung aja biar hangat” bisiknya pelan seolah takut terdengar pasangan yang ada di samping kami.

“Ba.. baik Tante ..” Jawabku juga pelan.

Lalu dengan hati-hati sekali aku mulai ikut memasukkan tubuh bagian bawahku ke sarung yang dipakai Tante Nina. Jadi sekarang satu sarung berdua..!

Aku sangat terkejut saat tubuh bagian bawahku masuk ke dalam sarung. Ternyata Tante Nina tidak memakai selembar ain pun pada tubuh bagian bawahnya. Celana panjang yang tadi dipakainya sekalian celana dalamnya rupanya sudah dilepaskannya secara diam-diam saat mengenakan sarung tadi. Aku jadi serba salah, mau gerak tak berani mau diam kok seperti ini..! Batang kemaluanku yang dari tadi sudah keras menjadi semakin keras memberontak dalam celanaku. Apalagi tanpa dapat kucegah tangan Tante Nina mulai meraba-raba batang kemaluanku dari luar celanaku. Napasku kian memburu mendapat perlakuan seperti itu.

“Ayoo.. pegang dada Tante .. Dik..” bisik Tante Nina dengan napas yang juga sudah mulai memburu.

Aku dengan terpaksa (karena gak kuat menahan napsu..) mulai menggerakkan tanganku dan meraba-raba dada Tante Nina dari luar gaunnya.. Kurasakan dadanya begitu sekal dan kenyal.. mungkin semua wanita begitu kali ya.. Napas kami semakin memburu tangan kami saling meraba dalam gelap.. (Mungkin.. ini yang dimaksud dengan peribahasa ’sedikit bicara banyak bekerja’ kali ya..? pinter juga tuh orang yang bikin peribahasa ini.. atau mungkin dia nemu peribahasa gini saat lagi begituan kali!)

Napasku seolah terhenti saat tiba-tiba batang kemaluanku sudah digenggam Tante Nina dan dielus-elus dengan lembutnya.. luar biasa.. benar-benar pengalaman terhebat yang pernah aku rasakan saat itu! Tubuhku meliuk-liuk menahan nikmat yang tiada tara saat tangan halus Tante Nina mengurut dan meremas batang kemaluanku.. kedua biji pelirku pun dielusnya dengan penuh kasih sayang.. aduh makk!

Penuh Basah

“Tante .. ahkk..” bisikku pelan-pelan tanpa berani bersuara keras-keras..

“Masukkan tanganmu Dik.. remas tetek Tante .. ayoo..” bisik Tante Sum yang menyadarkanku.

Sebenarnya tanpa disuruh pun aku sudah ingin meraba langsung bukit menggairahkan itu. Segera dengan semangat 45 (Ini kan jamannya tujuh-belas Agustusan) bak pejuang kita dahulu, aku menyusupkan tanganku ke dalam kaos ketatnya dari bagian bawah dan mulai mencari-cari bukit kenyal di dada Tante Nina. Tanganku terus meraba dan bergerak liar di dalam kaus Tante Nina dan terpeganglah apa yang kudaTante an. Kusibak BH yang masih menempel dan tanganku bergerak liar di balik BH itu. Begitu gemas rasanya aku meremas dan meraba (boso jowone “Ngowol”) kedua bukit kembar itu bergantian.

“Och.. ter.. terushh.. Dikk.. ouch..” Kudengar Tante Sum berbisik pelan sekali ditelingaku dengan napas yang semakin memburu.

“Ayo lepaskan celanamu itu Dik..” bisiknya lagi.

Dengan hati berdebar keras membayangkan apa yang akan terjadi kuturuti permintaan Tante Nina. Kuhentikan aktivitasku di dada Tante Nina dan melepas celanaku pelan sekali. Soalnya takut ketahuan tetangga di sebelahku, yang sempat kulirik mereka juga sedang krusak-krusuk sendiri dalam gelap. Aku tahu itu dari bunyi kain yang bergeser-geser. Setelah melepas celanaku dan menyimpannya di tas Tante Nina aku mulai beraktivitas lagi.. dan Tante Nina juga.

Kami saling meraba lagi. Batang kemaluanku yang sudah sangat keras (dalam bahasa Jawanya ‘ngaceng berat’) diurut dan diremas dengan lembut oleh Tante Sum.. menimbulkan rasa geli yang luar biasa.. Aku sempat tak bisa bernapas merasakan hal ini..

Diajarin Ngentot Gaya Kuda Bersama Tante Nina

Tanganku pun sekarang mulai berani bergerak sendiri. Sasaranku sekarang adalah bagian bawah Tante Nina. Dari perutnya yang sudah agak gendut sedikit tanganku bergeser turun dan tersentuhlah gumpalan rambut pekat di selangkangan Tante Nina.

“Terushh.. Dikk.. hhkk, ya.. itt.. itu..” bisik Tante Nina sambil terus menjilat lubang telingaku.

Tanganku terus menyisir celah celah di tengah rimbunan rambut itu yang sudah basah dan panas. Celah itu kurasakan begitu licin dan basah.. lalu dengan rasa ingin tahu.. kumasukkan jari ku di tengah-tengah celah sempit itu. Aku kaget.. karena tiba-tiba jariku seolah tersedot dan terdorong oleh gerakan celah di selangkangan Tante Nina itu. Dengan naluri alami tanganku mulai meraba dan meng’obok-obok’ selangkangan Tante Nina yang semakin basah. (Jadi bukan cuma Yoshua yang bisa ‘ngobok-obok’ aku juga bisa kok! Hayoo siapa diantara pembaca (cewek tentunya) yang mau di ‘obok-obok’ silakan kirim e-mail!)

Tante Nina semakin kelimpungan saat jari-jariku yang nakal mulai memasuki liang hangat dan basah di selangkangan Tante Nina. Jariku terus bergerak masuk ke celah-celah hangat dan licin itu hingga sampai pangkal.. dengan cepat kuhentak tarik keluar.. srett.. Tante Nina hampir memekik kalau tidak buru-buru menggigit leherku saat kutarik jariku dengan cepat dari jepitan liang kemaluannya.

Lalu pelan-pelan kudorong jariku masuk dalam jepitan kehangatan liang kemaluan Tante Nina, kutarik lagi cepat dan kodorong pelan-pelan.. begitu terus kulakukan berulang ulang hingga akhirnya Tante Nina berkelejat dan tubuhnya seolah tersentak.

“Ohk.. shh.. akhh” bisik Tante Nina sambil terus menggigit keras leherku.

Karena kukira Tante Nina merintih kesakitan, spontan kuhentikan gerakan jariku.

“Terush.. Dikk.. ter.. ouch..” rintihnya pelan sekali saat kuhentikan gerakan jariku di liang hangat diselangkangannya yang semakin licin oleh lendir yang keluar dari liang kemaluannya.

Mendengar permintaannya, otomatis jariku mulai bergerak semakin liar di dalam kehangatan liang kemaluan Tante Nina yang semakin berlendir dan licin. Tubuhnya meliuk liuk dan tersentak berkejat-kejat seiring dengan gerakanku. Gerakannya semakin lama-semakin lemah dan berhenti.. jariku tetap terjepit kehangatan liang kemaluannya, lalu kedua tangan Tante Nina memegang kedua pipiku dan diciumnya bibirku dengan mesra sekali.



“Kamu pintar Dik..” bisiknya mesra.

“Tante rasanya seolah mengawang tadi”

“Kukira tadi Tante Nina kesakitan.. makanya kuhentikan gerakanku” bisikku

“Enggak.. Tante enggak sakit kok.. justru nikmat sekali..” bisiknya manja.

“Sekarang biar Tante yang gantian memuaskan kamu” balasnya.

Kemudian dengan pelan, karena takut ketahuan pasangan di sebelah (Yang aku yakin juga sedang melakukan hal yang sama dengan kami!) Tante Nina mulai menaiki tubuhku. Dikangkangkannya kakinya dan dipegangnya batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat seperti meriamnya Pak tentara yang siap menggempur GAM. Lalu digesek-gesekkannya palkonku (kepala kontol ‘palkon’) di celah hangat di selangkangannya yang sudah sangat licin dan basah.

“Hkk..” napasku seolah terhenti saat batang kemaluanku mulai terjepit erat dalam kehangatan liang kemaluan Tante Nina.

Sensasi terhebat dalam hidupku! Dan barangkali inilah awal sejarah hilangnya keperjakaanku! Yang selanjutnya akan merubah kehidupanku! (Akan kuceritakan kelak).

Dengan pelan tetapi pasti.. alon-alon asal kelakon.. batang kemaluanku mulai menyeruak masuk dalam jepitan kehangatan liang kemaluan Tante Nina. Mataku terbeliak menahan nikmat yang tiada tara.. (Mungkin inilah yang namanya sorga dunia ya?).

“Tante ..” bisikku di telinga Tante Nina, “Geli Tante k”

“Hushh.. diam saja nikmati saja” balas Tante Nina mesra.

Aku menggigit bibir menahan nikmat yang tiada tara. Tante Nina terus berkutat di atas perutku, bergoyang dan berputar pelan. Hingga akhirnya seluruh batang kemaluanku tertelan dalam kehangatan liang kemaluan Tante Nina. Seluruh batang kemaluanku masuk sampai ke pangkalnya sampai kurasakan palkonku menumbuk sesuatu di dalam sana. Tante Nina pun mungkin merasakan hal yang sama denganku, kutahu itu dari napasnya yang tersengal-sengal.

Gesekan demi gesekan dari kedua kemaluan kami menghangatkan dinginnya malam di Gn Kmks itu. Kami sudah tidak peduli lagi dengan pasangan-pasangan lain di sekitar kami. Yang kami tahu adalah bagaimana mereguk nikmat dan menuntaskan hasrat yang sudah hampir mencapai klimaksnya.

Tante Nina terus bergerak pelan. Lama-lama gerakannya sudah mulai tidak teratur dan kurasakan Tante Sum menggigit leherku lagi. Aku pun hampir saja berteriak menahan sesuatu yang hampir meledak dari dalam diriku. Kurasakan dorongan semakin kuat mengehentak bagian bawah perutku.

Gerakan Tante Nina semakin tidak teratur dan gigitannya semakin kencang.

“Ouchkk.. Dikk.. Tante mau kelu.. arrghh” bisiknya sambil tubuhnya mengejat-ngejat di atas perutku.

Akupun sepertinya tidak mampu lagi menahan dorongan yang menghentak dan akhirnya tanpa dapat kupertahankan jebollah sudah pertahananku. Crrt.. crett.. crett.. crett.. crett.. keluarlah lahar panas dari ujung palkonku yang membasahi dan menyiram rahim Tante Nina. Tubuhku seolah melayang dan terhentak seperti terkena arus listrik. Kurasakan puncak sensasi bersetubuh yang ruarr biasa.. Tanganku mencengkeram bongkahan pantat Tante Nina yang masih saja bergerak liar untuk mencoba menghentikannya. Tetapi semakin erat kutahan semakin liar gerakannya hingga aku pasrah saja dan menikmati sensasi semampuku.

“Tante sud.. sudah.. Tante .. ohh” bisikku di telinganya.

Rupanya saat aku mencapai orgasme tadi Tante Nina juga sedang mencapai orgasme sehingga sulit kuhentikan gerakannya.

“Kamu hebat Dikk..” bisiknya mesra sekali.

“Tante puas sekali..”

Kami masih terus berpelukan beberapa saat. Tante Nina masih menindihku dan batang kemaluanku masih erat terjepit dalam liang kemaluannya. Dan secara perlahan kurasakan batang kemaluanku mulai terdorong keluar akibat kontraksi liang kemaluannya..lalu tubuh kami sama-sama tersentak saat batang kemaluanku terlepas sendiri dari jepitan liang kemaluannya. Kami saling berpandangan mesra dan tersenyum.. Duh manisnya Tante Nina kalau tersenyum (Aku membatin andai saja Tante Nina ini jadi istriku betapa bahagianya aku).

“Tante aku kok jadi sayang sekali sama Tante ”.. bisikku mesra.

“Tante juga kok Dik..” balasnya.

“Nanti kita pulangnya mampir dulu istirahat di losmen di depan stasiun Blp.. mau kan?” lanjutnya.

“Mau dong.. masa mau menolak rejeki” jawabku nakal.

“Memang Mas Gun enggak marah?” tanyaku.

“Enggak kok.. malah dia yang nyuruh aku untuk ke sini melakukan ritual.. malahan dia yang memilihkan pasangannya.. ya Dik Baim itu” jawabnya santai.

(Sialan gerutuku dalam hati. Rupanya aku mau dijadikan tumbal pesugihannya! Tapi biarin dah, yang penting nikmatt). Mulai detik itu aku berjanji dalam hati akan mengerjai istrinya habis-habisan atas keputusannya menjadikanku sebagai tumbal pesugihannya. Dan janjiku akan kubuktikan sebentar lagi.
Penuh Basah

Pagi sekali, kira-kira jam 04.00 pagi satu per satu pasangan yang telah menjalani laku gila ini mulai beranjak pulang. Kami pun ikut pulang ke tempat kami. Dinginnya udara pagi tak kurasakan, karena Tante Nina yang kubonceng memeluk erat tubuhku sepanjang perjalanan. Tubuhku jadi hangat apalagi dada Tante Nina yang kenyal menekan erat punggungku. Kupacu kendaraanku kencang-kencang takut kesiangan.

Sementara Tante Nina tetap erat memelukku dan tangannya tak ketinggalan dimasukkan ke dalam celanaku dan meremas-remas batang kemaluanku sepanjang perjalanan itu. Mendapat perlakuan itu, tentu saja adik kecilku bangkit berdiri dan memberontak seolah hendak menyeruak keluar dari sarangnya. Remasan dan pelukan Tante Nina membuatku melupakan dinginnya udara pagi dan lamanya perjalanan dari Gml ke kota S yang kira-kira sejauh 30 Km itu.

Selang setengah jam kemudian kami pun sampai ke kota S, dan kami pun menuju daerah sekitar stasiun Blp untuk mencari penginapan yang “Sesuai” (sepi dan asoy). Setelah berputar-putar beberapa saat, kami pun menemukan sebuah losmen yang cukup bersih dan letaknya agak tersembunyi. Kami memilih kamar yang mempunyai kamar mandi di dalam agar privasi kami lebih terjaga.

Setelah check in aku langsung masuk kamar mandi dan mulai membuka seluruh pakaianku untuk mandi. Sementara itu Tante Nina langsung tiduran sambil menonton acara televisi pagi. Sedang asyik-asyiknya menyabuni tiba-tiba Tante Nina masuk kamar mandi dan sudah telanjang bulat tanpa selembar benangpun yang menutupi tubuhnya yang indah itu.

Aku terpana dan tanpa sadar menghentikan kegiatanku. Mulutku melongo menyaksikan pemandangan yang terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Ya.. walaupun kami pernah bersetubuh, tetapi aku belum pernah melihat seluruh tubuhnya sejelas ini. Tadi malam kami bersetubuh dalam gelap dan itupun kami masih terbalut pakaian atas kami masing-masing.

Benar-benar luar biasa pemandangan yang terpampang di hadapanku ini. Walaupun perutnya agak berlemak, namun keindahan tubuh Tante Nina masih sangat mempesona. Kulitnya yang khas wanita Jawa berwarna sawo matang tampak mulus tanpa cacat. Rambutnya yang hitam lurus, sebahu panjangnya tampak indah tergerai.

Dan payudaranya yang masih cukup kencang menggantung indah dengan puting yang mencuat kecoklatan. Sedikit turun ke bawah bulu-bulu hitam keriting memenuhi gundukan bukit kecil di bawah perutnya. Luar biasa! Aku sampai melongo dibuatnya. Apalgi tubuhnya tersorot lampu neon dari kamar tidur dan dari kamar mandi sekaligus.

“Lho.. kok mandinya berhenti?” Tanya Tante Nina mengejutkanku hingga membuatku gelagapan.

“Eh.. anu.. eh.. Tante .. kok ma.. masuk kesini Tante ?” tanyaku gagap dan otomatis tanganku menutupi batang kemaluanku yang sudah penuh sabun.

“Kenapa emangnya? Apa enggak boleh mandi bareng-bareng?” katanya santai terus dimintanya sabun yang sedang kupegang.

“Sini Tante mandiin biar bersih!”.

Aku pun mandah saja dan kunikmati elusan tangan Tante Nina yang menyabun seluruh tubuhku. Digosoknya punggungku dengan sabun terus ke bawah hingga pantatku pun tak lupa digosok-gosoknya. Aku merem melek menikmati remasan tangan Tante Nina di kedua belahan buah pantatku.

“Hayo.. sekarang depannya..” tiba-tiba Tante Nina menyuruhku untuk menghadapinya.

Tangannya mengusap leherku terus ke bawah dan beberapa saat memainkan jarinya di kedua tetekku bergantian. Aku menahan napas ketika tangannya terus merayap ke bawah dan mulai menyabuni selangkanganku. Diremasnya batang kemaluanku dengan lembut. Kontan adik kecilku terbangun dan mengeras seketika.

“Lho.. kok terus kencang?” gurau Tante Nina demi melihat batang kemaluanku berdiri tegak bak petarung yang siap laga. Aku jadi jengah dan sedikit malu.

“Iya soalnya dia tahu ada lawan mendekat” balasku untuk menghilangkan kekakuan.

“Dia tahu sebentar lagi mau disuruh kerja.. he.. he.. he!” gurauku.

“Ah maunya..!” Tante Nina memonyongkan bibirnya.

Aku yang sudah sangat terangsang dengan elusan dan remasan tangannya di selangkanganku langsung saja memeluknya dan tanpa ba Bi Bu lagi kusergap bibirnya yangs sedang monyong itu. Kupeluk tubuh telanjangnya dan dengan ganas kucium bibirnya.

“Mphhf..” Tante Nina gelagapan saat bibirnya kuserobot dan tanganku erat memeluknya.

Sambil terus menciumnya tanganku dengan beraninya berkeliaran mengelus punggung Tante Nina dan terus ke bawah ke arah bongkahan pantatnya yang padat. Kuremas kedua belah buah pantatnya bergantian.

“Dikk.. ohh” Tante Nina Cuma bisa melenguh dan menggelinjang dalam dekapanku.

Tangannya semakin liar mengurut dan meremas batang kemaluanku. Aku sendiri tidak perduli kalau tubuhku masih penuh dengan busa sabun dan bau keringat Tante Nina yang belum mandi sejak kami bersetubuh semalam.

“Dik.. Tante .. Tante be.. belum mandi..” napas Tante Nina tersengal-sengal saat dengan ganasnya kuciumi lehernya.

“Biar Tante mandi dulu.. ughh” Tante Nina melenguh minta kulepaskan.

Mungkin ia risih dengan bau keringatnya sendiri. Lalu kulepaskan pelukanku. Kusiram tubuh Tante Nina dengan air dingin.

“Sini Tante biar gantian ku mandiin” kuraih sabun yang dipegangnya.

Lalu balik tubuh Tante Nina dan kusabun punggungya. Kugosok bagian punggungnya dan tanganku yang nakal bergeser terus ke bawah. Begitu tanganku menyentuh bagian pantatnya yang padat tanganku mulai meremas dengan gemas. Kuelus dan kugosok ke dua belah bongkahan pantat Tante Nina. Setelah puas bermain-main dengan pantatnya, tanganku mulai menyabun tubuh Tante Nina bagian depan. Namun saat itu posisiku masih dibelakang Tante Nina, jadi tanganku menggosok bagian depannya sambil memeluknya dari belakang.

Saking ketatnya pelukanku, tubuh bagian bawah kami saling menempel ketat. Batang kemaluanku yang sudah sangat keras tergencet antara bongkahan pantat Tante Nina dengan perutku sendiri. (Pembaca bisa bayangin gimana rasannya). Luar biasa! Apalagi pantat Tante Nina dan batang kemaluanku sangat licin karena penuh busa sabun. Rasanya syurr.. apalagi Tante Nina sengaja menggoyang-goyangkan pantatnya hingga batang kemaluanku tergesek-gesek. Nikmatt!

Penuh Basah

Kedua tangan Tante Nina diangkat ke atas kepalanya seolah-olah membiarkanku untuk semakin mudah menggosok kedua payudaranya dari belakang. Sementara pantatnya yang menggencet batang kemaluanku sebentar-sebentar digoyang. Aku semakin terangsang hebat dengan perlakuannya itu. Lalu tanganku kugeser ke arah selangkangannya. Kugosok gundukan bukit kecil di selangkangan Tante Nina yang lebat dengan rambut. Kusabun dan gundukan bukit itu dengan arah dari atas ke bawah mengikuti alur celah hangat di selangkangan Tante Nina.

“Ouchh.. ter.. rushh Diikk” sekarang Tante Nina sudah berani bersuara agak keras karena kami hanya berdua.

Tidak seperti keadaan semalam dimana kami hanya bisa berbisik-bisik takut ketahuan pasangan lain. Aku semakin semangat bermain-main dengan bukit kecil di selangkangannya. Tanganku yang jahil sekali-sekali menusuk masuk ke celah hangat diselangkangannya. Hal ini membuat Tante Nina semakin liar menggerakkan pantatnya. Akibatnya aku sendiri yang melenguh kenikmatan karena batang kemaluanku tergencet pantatnya yang licin.

“Akhh.. terr.. ushh..” Tante Nina semakin liar menggumam tak karuan saat kukorek-korek liang kemaluannya dengan jariku.

Kumainkan jariku di dalam liang kemaluan Tante Nina. Dan Tante Nina semakin meronta dan menggelinjang saat jariku memainkan dan menggosok tonjolan daging kecil dalam liang kemaluannya. Kepalanya mendongak ke atas dan mulutnya setengah terbuka menahan nikmat. Kugosok terus dan sesekali kutarik tonjolan daging itu.

“Terush.. Dikk.. ohh.. ter.. ruushh” Tante Nina terus menceracau. Dan dengan diakhiri lenguhan panjang tiba-tiba tubuhnya mengejang.., kepalanya terhentak dan tubuhnya meliuk. Mungkin dia mencapai orgasme saat kumainkan tonjolan daging di selangkangannya.

Kemudian setelah beberapa saat ia terdiam dan matanya terpejam seolah menikmati sensasi yang baru saja dirasakannya. Setelah napasnya mulai teratur diraihnya gayung dan disiraminya tubuhnya dan tubuhku dengan air. Sambil menyirami sisa busa sabun di tubuhku tangannya mengelus dan mengurut batang kemaluanku yang sudah sangat kencang (Ngaceng habis-habisan!).

“Dik.. kamu tiduran saja di lantai biar Tante yang service sekarang” disuruhnya aku berbaring di lantai kamar mandi.

Aku pun menurut saja apa maunya. Kubaringkan tubuhku di lantai kamar mandi yang dingin, aku saat itu berbaring sambil berdiri pembaca! Bayangkan berbaring sambil berdiri! Aku memang berbaring.. tapi adik kecilku berdiri tegak menunjuk langit-langit kamar mandi!

Setelah aku berbaring, Tante Nina merangkak di atas tubuhku. Ia duduk di atas perutku dan mulai mencium keningku. Aku memejamkan mata merasakan sensasi luar biasa. Antara napsu dan sayang. Napsu soalnya selangkangan Tante Nina yang hangat menempel ketat di atas perutku dan batang kemaluanku menempel pantatnya. Sayang karena aku seolah-olah sedang dimanja.

Ya aku sedang dimanja karena aku tidak diperbolehkan bergerak dan disuruh menikmati layanan total yang hendak diberikannya padaku. Dari keningku perlahan bibirnya bergerak turun dan mulai menjilati telingaku kanan dan kiri bergantian. Rasa geli yang luar biasa menerpaku saat lidah Tante Nina menyapu-nyapu lubang telingaku.

“Akhh.. Mbaak..” bisikku mesra.

Tubuhnya terus bergeser ke bawah saat bibir Tante Nina beranjak turun ke bibirku. Kami saling memagut dan dorong mendorong lidah. Aku yang belum berpengalaman ikut saja permainan yang diberikan Tante Nina. Lidahnya menyapu-nyapu lidahku dan kusedot kencang-kencang lidah Tante Nina. Akibatnya tubuh bagian bawahnya yang sekarang menindih batang kemaluanku semakin ketat menekanku. Rasa hangat menjalar dari batang kemaluanku yang terjepit gundukan bukit di selangkangan Tante Nina yang kurasakan makin licin.

Sementara bibir kami saling berpagutan, kemaluan Tante Nina yang menjepit kemaluanku digesek-geseknya dengan pelan. Kembali lagi kurasakan sensasi luar biasa. Betapa tidak.. walaupun batang kemaluanku belum memasuki lobang yang semestinya namun karena bibir kemaluan Tante Nina sudah sangat licin jadi kemaluanku yang terjepit di antara bibir kemaluannya dan perutku sendiri seperti diurut. Batang kemaluanku mulai berdenyut-denyut. Gerakanku sudah mulai liar tak terkendali. Namun permainan belum berakhir! The game was just begun! Permainan baru dimulai!

Penuh Basah

Bibir Tante Nina terus menjilat seluruh tubuhku. Leherku sudah basah oleh liur Tante Nina. Dari leher bibirnya terus merangsek ke bawah, kedua puting dadaku pun habis dipermainkan lidahnya. Dari sini bibirnya terus ke bawah hingga pusarku pun dijilatinya habis-habisan. Lagi-lagi sensasi luar biasa menyerbuku saat lidah Tante Nina mengais-ngais pusarku sementara ke dua payudaranya menempel ketat di batang kemaluanku.! Edann..! Kali ini batang kemaluanku terjepit di tengah-tengah belahan payudaranya yang kenyal! Sensasi nikmat semakin meningkat saat tanpa dapat kucegah bibir Tante Nina mulai menciumi batang kemaluanku dari ujung hingga pangkalnya. Gilaa!

“Upff.. Mbaak..” aku setengah memekik saat ujung kemaluanku serasa terjepit benda hangat!

Ternyata batang kemaluanku sedang dikulum Tante Nina! Dia mengulum batang kemaluanku seperti anak kecil yang sedang menjilati ‘magnum’ es krim yang terkenal itu! Sambil dikocok batang kemaluanku dihisapnya habis-habisan! Tidak puas menjilat batang kemaluanku, Tante Nina mulai menjilat kantung pelerku (gaber). Ya gaberku! (Gaber adalah bahasa Banyumas untuk kantong peler – bukan pamannya Donal Bebek). Dikuakkannya lipatan gaberku dan dijilatinya inci demi inci gaberku itu!

Batang kemaluanku semakin berdenyut kencang. Kocokan tangan Tante Nina pada batang kemaluanku semakin kencang. Sekali lagi batang kemaluanku jadi bulan-bulanan mulut Tante Nina. Dikulumnya lagi batang kemaluanku yang semakin berdenyut hingga hampir seluruhnya masuk ke dalam mulutnya.

Mataku semakin membeliak menahan sesuatu yang mendesak dari perut bagian bawahku. Aku mencoba bertahan dengan mencoba memegang kepala Tante Nina agar diam! Namun semaki kencang aku memegang kepalanya, semakin kencang pula kepalanya bergoyang hingga batang kemaluanku dikocok-kocok dengan mulutnya.

“Aarghh..” aku melenguh kencang saat aku tak mampu lagi menahan desakan lahar yang menyembur keluar dari ujung kemaluanku!

Crat.. cret.. cret.. crett.. crett hampir lima kali aku menyemburkan air maniku untuk yang kedua kalinya hari ini! Namun kali ini aku mengeluarkannya di mulut Tante Nina! Tubuhku bergetar dan mengejat-ngejat. Semakin ketat kutekan kepala Tante Nina agar batang kemaluanku semakin dalam terbenam dalam mulutnya! Akibatnya hampir semua air maniku tertelan olehnya!

“Bagaimana Dik Baim?” Tanya Tante Nina menggodaku, “Enak?”

“Uf.. luar biasa Tante ” jawabku agak malu dan penuh rasa bersalah karena aku mengeluarkan air maniku di mulutnya.

“Sorry ya Tante aku.. aku.. kel.. keluar di mulut Tante ..”

“Enggak apa apa Dik..” kata Tante Nina yang mencoba menenangkanku.

“Malah Tante senang bisa buat jamu.. hik.. hik.. hik”.

“Ayo sekarang istirahat dulu..” ajaknya sambil menarikku agar bangkit.

Setelah membersihkan diri dan mengeringkan tubuh kami, kamipun berbaring di tempat tidur sambil menonton TV berita pagi. Kami masih sama-sama telanjang bulat dan berpelukan di tempat tidur.

Mungkin karena terlalu mengantuk dan capai setelah semalaman tidak tidur ditambah ejakulasi dua kali membuatku langsung terlelap. Aku tidak tahu telah berapa lama tertidur sambil memeluk tubuh telanjang Tante Nina. Aku tersadar saat tubuh bagian bawahku terasa geli.. perlahan kubuka mataku dan kulihat Tante Nina sedang menciumi tubuh bagian bawahku. Aku diam saja pura-pura tertidur.. padahal si kecil sudah bangun sedari tadi.

Batang kemaluanku berdenyut-denyut saat seluruh batang kemaluanku masuk dalam kuluman mulut Tante Nina yang hangat dan bergelora. Lidahnya yang kasar dan panas menyapu-nyapu ujung kemaluanku yang membuatku tak sadar menggelinjang hingga Tante Nina tahu kalau aku hanya pura-pura masih tidur!

“Rupanya kamu nakal ya!” katanya sambil memencet batang kemaluanku yang sudah sangat keras itu.

“Awas kamu”, ujarnya lagi.

“Adaoww” jeritku manja.

Rasanya sakit tapi enak juga dipencet oleh tangan Tante Nina yang halus itu! Pembaca gak percaya? (Boleh dicoba ntar kuminta Tante Ninaku memencet pembaca yang penasaran! Ha.. ha.. ha).

Aku semakin menggelinjang kegelian campur sedikit ngilu saat mulut Tante Nina menyedot buah pelerku kencang-kencang. Geli tapi ngilu.. ngilu tapi geli.. pembaca bisa bayangin gimana rasanya.. pokoknya campur aduk deh.. sulit digambarkan dengan kata-kata..

Tiba-tiba Tante Nina membalikkan posisinya.. mulutnya masih sibuk melumat batang kemaluanku tetapi sekarang tubuh bagian bawahnya digeser ke atas sehingga gundukan bukit di bawah perutnya yang lebat ditumbuhi bulu hitam sekarang tepat berada di hadapan wajahku. Kedua kakinya mengangkangi wajahku sehingga jelas kulihat belahan merah jambu segar di tengah-tengah gundukan itu. Ada bau khas semacam bau cumi-cumi segar menyeruak lubang hidungku.. oo.. rupanya seperti inikah bau kemaluan wanita.. seperti bau cumi-cumi.. orang Korea bilang katanya bau Ojingo atau bahasa kitanya cumi-cumi! Segar dan sedikit amis.. gitu!

Aku yang baru kali ini melihat dari dekat bentuk kemaluan wanita dewasa menjadi terpesona melihat pemandangan seperti itu. Mengetahui aku diam saja Tante Nina yang tadinya asyik menjilati batang kemaluanku berhenti melakukan aksinya lalu diturunkannya pantatnya pelan-pelan sehingga lubang kemaluannya menekan hidung dan mulutku.

Aku yang sedang melongo jadi gelagapan karena tiba-tiba kejatuhan memek! Pas dimulut dan hidungku lagi! (Pembaca pernah enggak kejatuhan memek? Kalau belum bisa dicoba suruh aja cewek pembaca ngangkang di atas dan melakukan aksi seperti itu! Pasti ditanggung kaget tapi nikmat! Ha.. ha.. ha!)

Begitu liang kemaluan Tante Nina yang sudah basah dan panas menekan mulutku otomatis tanpa disuruh bibirku melahap seluruh cairan yang membasahi liang kemaluan Tante Nina.. rasanya.. sedikit agak asin.. Lidahku menyeruak masuk ke dalam liang kemaluan Tante Nina hingga kepala Tante Nina terdongak dan pantatnya semakin menekan wajahku.

“Shh.. terusshh Diikk.. ohh” Lidahku terus menerobos liang kemaluannya dan masuk sedalam-dalamnya.

Aku semakin gelagapan susah bernapas karena kemaluan Tante Nina begitu ketat menekan mulut dan hidungku. Tekanan pantatnya semakin ketat saat tubuhnya meliuk-liuk dan berkejat-kejat saat kusedot tonjolan daging di sela-sela liang kemaluannya. Tante Nina menjerit dan semakin kuat menekankan pantatnya hingga hidung dan mulutku seolah amblas ditelan bongkahan liang kemaluannya yang menindihku.

“Upf.. brr..! Karena tak tahan susah bernapas kusembur kencang-kencang liang kemaluannya hingga menimbulkan bunyi aneh seberti kain robek. Brrtt..!

“Ihh..” Tante Nina menjerit kaget atas kenakalanku itu.

“Awas ya.. entar Tante balas kamu..” jeritnya manja.

“Abis.. aku enggak bisa bernapas.. Tante juga sih..” balasku tak kalah manja sambil meremas-remas bongkahan pantatnya yang sekal dengan gemas.

Tante Nina pun membalas aksiku tadi. Kini disedotnya kuat-kuat lubang saluran kencingku.. aku sempat mengawang merasakan kenikmatan yang tiada tara ini. Aku pun balas lagi kutekan pantatnya dan kudekatkan bibir kemaluannya ke mulutku dan mulai mlumat bibir kemaluannya dengan gemas. Kembali Tante Nina menggelinjang dan akhirnya tak tahan sendiri.

“Oh.. su.. sudah diikk..!” desisnya, “Tante sudah enggak kuat..”

Lantas ia mengubah posisinya. Sekarang kami berhadap-hadapan dan Tante Nina masih di atas tubuhku. Dengan tanggannya batang kemaluanku dicocokkannya ke liang kemaluannya yang sudah sangat licin. Setelah tepat kemudian ditekannya pantatnya pelan pelan hingga batang kemaluanku mulai menyeruak kehangatan liang kemaluannya.

Aku menggigit bibirku agar tidak melenguh. Hingga bless.. hampir seluruh batang kemaluanku terbenam dalam kehangatan liang kemaluan Tante Nina. Tante Nina menghentikan gerakannya dan kami menikmati keindahan saat-saat menyatunya tubuh kami. Kami saling bertatap pandang dan tersenyum mesra. Oh.. alangkah mesranya.

“Aku sayang kamu Dikk..” bisik Tante Nina di telingaku dengan mesra.

“Aku juga Tante ..” balasku tak kalah mesra.

Kemudian bibir kami saling berpagutan. Lidah kami saling bertaut.

Dengan pelan Tante Nina mulai menggoyangkan pantatnya naik turun di atas tubuhku. Batang kemaluanku semakin kencang tergesek-gesek dalam jepitan liang kemaluannya. Tanganku tak tinggal diam. Kuremas buah pantat Tante Nina dengan gemas. Semakin lama semakin cepat Tante Nina menggoyangkan pantatnya di atas tubuhku. Mulutnya tak henti-hentinya mendesis dan merintih. Aku pun mengimbangi gerakannya dengan memutar pinggulku menuruti instingku. Tante Nina semakin liar menggoyangkan pantatnya dan mulutnya semakin kencang merintih.

“Ouch.. terushh.. Diikk..” mulutnya terus merintih.

“Tante mau kell.. oohh..” belum habis ia bicara ternyata Tante Nina sudah sampai ke puncak pendakiannya.

Tubuhnya meliuk dan berkejat-kejat bak terkena aliran listrik yang dahsyat. Aku pun semakin kencang memutar pantatku mengimbangi gerakannya dan terdorong keinginan untuk memuaskan hasrat wanita yang kusayangi ini

“Kamu.. hebb. bathh..” bisik Tante Nina mesra.

Beberapa kali ia menggelepar di atas tubuhku dan akhirnya tubuhnya ambruk di atas perutku. Ia terdiam beberapa saat. Kubiarkan Tante Nina untuk menikmati keindahan yang baru diperolehnya. Aku yang sudah dua kali mengeluarlan air mani selama satu malam itu merasa belum apa apa.

Setelah napasnya mulai teratur kubisikkan agar Tante Nina mengubah posisi. Sekarang kuminta Tante Nina tengkurap di ranjang dan kujulurkan kedua kakinya ke lantai hingga pantatnya yang indah menungging di tepi tempat tidur. Perutnya kuganjal dengan bantal hingga posisi menunggingnya agak tinggi. Indah sekali pemandangan yang terpampang di hadapanku.

Diajarin Ngentot Gaya Kuda Bersama Tante Nina

Betapa tubuh telanjang Tante Nina dengan pantatnya yang indah tengkurap dengan posisi menungging. Kunikmati pemandangan ini beberapa saat hingga Tante Nina mengomel manja.

“Ayo.. tunggu apa lagi” dia mengomel dengan manja.

Aku pun menempatkan posisiku tepat di belakangnya. Dengan berdiri kucocokkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dari arah belakang. Kugesek-gesek liang kemaluannya dengan kepala batang kemaluanku agar licin. Setelah licin, dengan pelan kutekan batang kemaluanku hingga menyeruak liang kemaluan Tante Nina. Beberapa kali kukocok batang kemaluanku sebelum kubenamkan seluruhnya.

Tante Nina mulai mendesis dan dengan pelan mulai menggoyangkan pantatnya mengimbangi gerakanku. Setelah beberapa kali kocokan dengan sekuatnya kutekan pantatku hingga seluruh batang kemaluanku amblas ke dalam liang kemaluan Tante Nina.

Kepala Tante Nina terdongak saat tulang kemaluanku beradu dengan pantatnya. Plok.. plok.. plok terdengar bunyi beradunya tulang kemaluanku dengan pantatnya hingga menimbulkan gairah tersendiri bagiku. Apalagi mulut Tante Nina kembali mendesis dan merintih saat batang kemaluanku mengocok liang kemaluannya. Aku semakin bersemangat memacu dan mengayunkan batang kemaluanku dalam jepitan liang kemaluannya.

Tante Nina semakin liar menggoyangkan pantatnya membuat mataku terbeliak menahan nikmat. Karena dengan gerakannya itu batang kemaluanku seolah-olah diremas-remas dan dipelintir. Kutekan pantat Tante Nina agar tidak terlalu kencang berputar. Aku bisa menahan napas lega begitu aku dapat mengontrol diriku agar tidak terbawa permainan Tante Nina. Aku ingin berlama-lama merendam batang kemaluanku dalam jepitan kehangatan liang kemaluannya. Aku tidak ingin cepat-cepat selesai.

“Ayoo.. kok pelan..” protes Tante Nina begitu aku memperlambat tempo.

Pantatnya semakin kencang. Kembali ia memutar pantatnya semakin lama semakin cepat hingga aku kembali merasakan desakan yang sangat dahsyat menekan dari perut bagian bawahku. Aku harus berusaha keras menahan desakan yang menggelegak dan kembali kutekan pantat Tante Nina agar tidak terlalu cepat berputar.

Batang kemaluanku yang terjepit dalam kehangatan liang kemaluannya seolah-olah terpelintir dan terjepit kian erat. Ujung kemaluanku terasa berdenyut-denyut seperti mau meledak. Semakin lama denyutan di ujung batang kemaluanku semakin kuat. Apalagi pantat Tante Nina bukan hanya berputar, tetapi sesekali diselingi dengan gerakan maju mundur mengikuti ayunan pantatku. Rasanya aku sudah tidak kuat lagi untuk mengeluarkan air maniku.

“Akhh.. Mbaak.. aku.. aku.. ma..” napasku kian tersengal hampir tak kuat lagi menahan gejolak.

Tante Nina semakin liar memutar pantatnya. Payudaranya berguncang-guncang seiring dengan gerakan tubuhnya yang liar. Suara beradunya pantat Tante Nina dengan tulang kemaluanku semakin keras bercampur dengan deru dengusan napas dan rintihan kami.

Aku semakin cepat mengayunkan pantatku maju mundur disambut dengan gerakan meliuk dan maju mundur pantat Tante Nina. Gerakanku semakin tak teratur saat desakan yang sudah tak mampu lagi ku bendung meledak. Ujung batang kemaluanku berdenyut kian kencang dalam jepitan liang kemaluan Tante Nina.

“Arghh..” aku melenguh kuat.

Mataku terbeliak dan tubuhku tersentak seperti terkena aliran listrik. Kucengkeram buah pantat Tante Nina dan kutekan dengan kuat hingga batang kemaluanku semakin dalam menghunjam ke dalam liang kemaluannya. Crat..! crat.. crat.. crat.. cratt.. Hampir lima kali kusemburkan air maniku kedalam rahim Tante Nina.

“Ouch.. shh..” Tante Nina pun rupanya mengalami orgasme pada saat yang bersamaan denganku.

Tubuhnya meliuk dan ikut berkelejat dan beberapa saat kemudian tubuh kami ambruk. Batang kemaluanku masih terjepit erat dalam liang kemaluan Tante Nina. Kubiarkan saja batang kemaluanku di sana. Aku rasanya sudah tak punya tenaga untuk menariknya. Kutindih tubuh telanjang Tante Nina yang masih nungging di atas tempat tidur empuk itu. Kami sama-sama mengatur napas setelah berpacu dalam nikmat (Mirip acarany Mas Koes Hendratmo aja Cuma dia bikinnya ‘Berpacu dalam Melody’ Ha.. ha.. ha!)

Penuh Basah

Kami sama-sama terdiam. Kupeluk tubuh Tante Nina. Tubuh kami sama-sama basah dengan keringat. Aku masih sempat merasakan liang kemaluan Tante Nina berdenyut-denyut menjepit batang kemaluanku yang sengaja tidak kulepas. Perlahan-lahan batang kemaluanku mulai terdorong keluar oleh denyutan liang kemaluan Tante Nina.

Plop.. akhirnya batang kemaluanku terlepas dari jepitan liang kemaluan Tante Nina dengan sendirinya. Kugigit ujung telinga Tante Nina sebagai ungkapan rasa sayangku. Kami bertatapan dan saling tersenyum mesra.

“Kamu cepat pintar.. sayang” bisik Tante Nina mesra.

“Siapa dulu dong instrukturnya..” balasku sambil mencium bibirnya.

Kembali bibir kami saling bertautan. Batang kemaluanku yang baru saja ‘terlempar’ keluar dari liang kemaluan Tante Nina mulai berlagak lagi. Perlahan namun pasti ia mulai mengeras. Gila! Baru berdekatan aja sudah bertingkah. Mungkin capai dengan posisi nungging, Tante Nina pun menggulingkan tubuhnya dan kini kami saling menindih dengan posisi saling berhadapan lagi. Bibir kami masih tetap saling melumat dan lidah kami pun saling dorong mendorong.

Batang kemaluanku yang sudah keras kembali menempel ketat pada gundukan di selangkangan Tante Nina yang hangat dan mulai basah lagi. Tanganku pun tak mau diam. Kedua payudara Tante Nina yang sekal menjadi bulan-bulanan tanganku yang sibik remas sana remas sini, raba sana raba sini..

Mendapat perlakuanku yang agak kasar, tubuh Tante Nina menggelinjang di bawah tindihan tubuhku. Napasnya mulai memburu. Lalu tangannya mencari-cari dan akhirnya terpeganglah batang kemaluanku yang sudah sempurna dan siap tempur. Dibimbingnya batang kemaluanku ke celah-celah di selangkangannya dan digesek-gesekannya di celah hangat dan sempit itu. Setelah licin tiba-tiba kedua tangan Tante Nina memegang pantatku dan ditariknya hingga batang kemaluanku kembali menghunjam liang kemaluannya dan bersarang di sana.

Kembali kami mengulang persetubuhan kami. Entah berapa babak kami bertempur hari itu. Kami baru pulang ke rumah kami masing-masing setelah waktu check out habis, antar jam 1 atau jam 2 siang itu. Kami pun berjanji akan meneruskan ritual di Gn Kmks malam Jum’at berikutnya.


Link Daftar Klik Di Bawah ini
ISIKAN KODE REFFERAL "DOMINOO757"
****KODE REFERAL JANGAN DIBIARKAN KOSONG****
Share:

Minggu, 23 Juni 2019

Nikmatnya Ratih Sepong Kontolku

Penuh Basah

Perkenalkan namaku Adam. Aku begelut di dunia usaha sejak aku duduk di bangku SMA hingga belum lama ini aku menyandang gelar sarjana. Tidak semua usaha bisa bejalan dengan mulus, gonta ganti bidang sudah aku alami. Aku bahkan juga hafal sifat dan karakter karyawan/ti tapi maaf, bukan bermaksud untuk sombong. Disaat sebayaku sedang merintis karir dari bawah, aku sudah punya asisten pribadi yang mengelola beberapa bidang usaha yang kumiliki.

Namanya mbak Ratih. Ibu dari dua anak, yang paling besar duduk di kelas 5 SD sedangkan yang kecil masih kelas 2 SD. Suaminya bekerja sebagai pegawai honorer di sebuah instansi pemerintah sekaligus menjadi penjaga losmen pada malam harinya. Mbak Ratih berusia 33 tahun, wanita yang dibesarkan dari keluarga menengah dan religius.

Terlihat dari jilbab yang selalu dikenakannya dan juga tutur katanya yang santun. Selain berparas ayu, baju lengan panjang dan celana kain yang biasa ia kenakan seakan mencetak lekukan tubuh langsingnya, apalagi saat mengenakan celana warna cerah membuat garis CDnya tampak erat mencengkeram bongkahan pantatnya yang kecil namun padat dan kencang itu. Sering mbak Ratih kujadikan fantasi sexku saat aku melakukan onani.

Dilihat dari kacamata batinku, sosok mbak Ratih sungguh mirip dengan artis ‘Sarah Vi’ artis era 90-an yang namanya meroket sejak membintangi sinetron “Inem Pelayan Sexy” meski menurutku mbak Ratih lebih tirus atau langsing. “Aaahhh…Andai mbak Win belum bersuami”. Bahkan ibuku pun tampak menyayangi mbak Ratih. Keduanya memang sudah saling mengenal saat ibu masih sesekali membantu usaha warung makan yang dulu kurintis hingga kini sudah merambah katering, persewaan tenda dan sound system, pangkalan gas LPG dan masih dalam proses menjadi agen resmi minuman kemasan ternama.



Semua kejadian terjadi tanpa sengaja. Aku yang sedang sibuk sibuknya merampungkan kuliahku sedangkan ibuku yang janda dan sudah pensiun mengajar diminta untuk tinggal di luar kota bersama kakak perempuanku dan suaminya. Selain dekat dengan anak, menantu dan cucunya, memang itu lebih baik untuk Ibu daripada hanya hidup berdua denganku yang lebih sering sendiri di rumah karena kutinggal dengan segala kesibukanku.

Otomatis warung makan pun terbengkalai dan kuputuskan tutup sampai dengan waktu yang belum kutentukan. Dilain sisi mbak Ratih masih berusaha mempertahankan penghidupannya, ia mengusulkan untuk menambah karyawan dan ia juga bersedia untuk mengelola dengan tanggung jawab penuh. Mendengar usul dari mbak Ratih aku hanya terdiam, tidak serta merta mengabulkannya hingga raut wajah mbak Ratih yang bisanya berseri berubah murung saat kuungkapkan niatku.

Kulihat seharian mbak Ratih lebih banyak diam dan termenung di dapur sambil membersihkan peralatan masak sebagai tugas terahkirnya. Sungguh tak tega aku melihatnya. Perlahan kututup pintu depan warung, kuhampiri mbak Ratih dan kusodorkan uang sejumlah dua juta rupiah padanya, mbak Ratih tertegun kemudian menatapku. Matanya mulai berkaca-kaca dan air mata mulai menetes dari sudut matanya yang indah.

“Mbak Ratih, ini tolong diterima ya” ucapku sambil menyodorkan uang.

“Apa ini mas?” tanyanya diiringi isak tangis.

Ruang dapur yang biasanya dihiasi tawa, kini berubah drastis, apalagi suasana haru saat itu justru menambah kedekatan hati kami.

“Ini gaji terakhir mbak Ratih ditambah sedikit sebagai ucapan terima kasih saya pada mbak Ratih” ucapku.

“Ta…tapi mas” jawabnya terbatu bata.

Aku tak menjawab namun kuberanikan diri untuh meraih pergelangan tangan kanannya dan menyerahkan uang itu. Mbak Ratih beranjak dari duduknya kemudian berlutut dihadapanku, ia memeluk kedua kakiku dengan erat.

“Mas, ijinkan saya tetap bekerja dengan mas Adam, saya berjanji akan bekerja dengan sungguh sungguh mas” kata mbak Ratih memohon.

Mbak Ratih merupakan tulang punggung keluarganya. Gaji suaminya dari instansi ditambah upah sebagai penjaga losmen pun tak seberapa jika dibandingkan dengan gaji mbak Ratih disini. Terlebih kebutuhan anaknya yang semakin beragam, belum lagi dengan usia mbak Ratih tentu akan sulit dalam mencari pekerjaan baru.

Aku memasukkan kembali uang itu ke dalam saku celanaku, kemudian kuraih kedua lengannya, kuangkat tubuh mbak Ratih sehingga kami sama-sama berdiri.

“Sebetulnya Adam juga sayang sama mbak Ratih ga mau mbak Ratih pergi mbak Ratih sudah kuanggap seperti kakakku sendiri makasih ya mbak” ucapku.

Mbak Ratih hanya tertunduk dan terdiam.

“Kog diam mbak, kata kata Adam ada yang salah ya?” tanyaku.

Mbak Ratih masih saja terdiam saat itu. Hingga tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya.

“Terus kenapa mbak Ratih terdiam dan masih sedih?” tanyaku lagi. Suasana yang melow mulai membuatku melontarkan kata-kata yang bodoh kala itu.

“Kalo mas Adam sayang sama saya kenapa saya disuruh pergi dari sini?” tanyanya balik. Pertanyaan skak mat dari mbak Ratih membuatku meringis menyadari kebodohanku.

Sudah kepalang basah, entah baik atau jelek ahkirnya kuberanikan diri untuk bertanya pada mbak Ratih.

Penuh Basah


“Apakah mbak Ratih juga sayang sama Adam?” tanyaku lagi. Mbak Ratih tak menjawabnya, ia mengangkat kepalanya sebentar menatapku kemudian tertunduk kembali.

“Kog ga dijawab mbak?” tanyaku. Semula rasa haru yang memenuhi suasana itu perlahan berubah menjadi nafsu dengan keadaan itu.

“Percuma juga kalo dijawab mas, toh bagaimanapun mbak juga harus pergi, walaupun mbak senang dan betah kerja disini sama mas Adam, mas Adam baik dan ga pernah marah ” terangnya.

“Kalo aku masih mau mbak Ratih tetep disini…?” ucapku. Kupasang senyumku sambil menunggu jawaban dari mbak Ratih.

“Yang bener mas?” tanyanya seolah tak percaya. Ia mengangkat kepalanya seiring pancaran ayu wajahnya kembali tergambar. Sambil tak sadar ia memegangi kedua pergelanganku. Perlahan kulepaskan gengaman tangannya dan mengambil posisi memeluknya. Mbak Ratih tak memberikan respon, malahan posisinya sedikit ditarik ke belakang.

“ya sudah, kalo gitu memang lebih baik usaha ini ditutup saja” kataku kecewa. Aku memalingkan tubuhku seketika, mbak Ratih berusaha meraih lenganku.

“Maaf mas Adam, bukan maksudku membuat mas Adam kecewa, tapi mbak kan sudah bersuami dan mas Adam tau akan hal itu” katanya.

“Iya Adam tau kog mbak, tapi Adam benar benar sayang sama mbak Ratih dan ga peduli dengan suamimu mbak” ucapku.


“Sekarang terserah mbak Ratih, mbak boleh pulang sekarang juga dan besok ga perlu datang lagi kesini atau?” kataku memberi pilihan pada mbak Ratih.

“Atau apa mas?’ tanyanya penasaran. Ia langsung menyaut kata-kataku sambil tangannya masih saja memegang lenganku.

Aku membalikan badan dan kami kembali saling berhadapan.

“Atau mbak mau menerima cintaku dan tetap disini?” jawabku.

Tanpa menunggu jawaban darinya, kudekatkan wajahku dan melayangkan ciumanku ke wajahnya. Mbak Ratih masih berusaha menghindar meski tak ada kata penolakan darinya. Ciuman yang kutujukan ke bibirnya meleset mengenai pelipisnya. Aroma hijab yang khas saat itu semakin menambah gejolak nafsu birahiku padanya. Kuangkat wajahnya dan kulayangkan ciumanku ke bibirnya, meski memang tak ada penolakan namun kulihat matanya terpejam erat dan bibirnya dikunci rapat hampir saja membuat emosiku terbakar.

Penuh Basah

Aku tak boleh gegabah, aku mencoba untuk mengendalikan emosiku dengan menarik nafas, kucium keningnya, pipinya, sambil kuusap perlahan punggungnya.

“Maafkan Adam ya mbak” bisikku.

Kujilati pipinya, pelipisnya, dagunya hingga tepian bibirnya yang mungil sampai akhirnya bibir mbak Ratih perlahan terbuka meski matanya masih tertutup. Kuhisap perlahan bibir atasnya, berganti bibir bawahnya dan mbak Ratih pun mulai membalas dengan pagutannya .

Kira-kira hampir setengah jam kami saling berpagutan, sambil kuremas-remas bongkahan pantatnya yang kecil namun kencang itu. Terlebih celana kain tipis yang dikenakannya justru memberikan sensasi kepada kami berdua hingga tak sadar tangan mbak Ratih sudah menelusup masuk ke dalam celana pendekku, mencoba meraih batang kontolku yang sudah tegang saat itu. Mbak Ratih sudah terlena dengan permainan kami. Dengan cekatan jemari mbak Ratih berhasil melepas kancing celana pendekku, menurunkan restlitingnya hingga batang kontolku menjulang tegak dalam gengamannya.

Perlahan mbak Ratih membelai kontolku sesekali mengocoknya perlahan. Aku pun tak tinggal diam, kubuka satu persatu kancing bajunya sehingga terlihat payudaranya yang masih tertutup bra ukuran 34A itu. Kutarik mbak Ratih ke ruang belakang, tempatku biasa tidur siang dan juga tempatnya beribadah.

Wajah mbak Ratih tampak tersipu saat di dalam ruangan itu kulucuti semua pakaiannya hingga kami berdua sudah sama-sama telanjang. Kurebahkan badannya diatas kasur busa yang biasa aku gunakan untuk tidur. Kutindih badannya dan kembali kujilati seluruh tubuhnya. Tak terkecuali puting susunya yang sudah sangat mengeras menghiasi kedua payudaranya.

“Ssstthhh aaahhh” desahnya menahan rasa nikmat yang aku berikan lewat jilatanku hingga kemudian ia mendorong tubuhku dan berbalik menindihku.

Serangan balasan dilakukannya mulai dari leherku, bahkan kedua putingku pun tak luput dari isapan dan jilatan bibir mungilnya. Lidahnya lincah menari mengitari kedua bola kembarku. Menjilati batang kontolku dan kemudian memasukan ke dalam mulutnya. Batang kontolku dikocok dengan menggunakan mulutnya. Itu dilakukannya selama 10 menit. Aku hnya bisa mendesah menahan nikmat permainan mulut mbak Ratih di batang kontolku.

Penuh Basah

“Sssthh…aarrgghh enak sekali mbak” desahku.

“Ooohhh mbak aku mau keluaaarr mbaaakkk.aaahhh” rancauku.

Kontolku pun berkedut di dalam mulutnya. Seketika cairan kental spremaku menyembur di dalam rongga mulutnya yang hangat. Mbak Ratih tak bergeming dan terus saja menghisap sampai peju yang dimulutnya pun berceceran. Tak berapa lama batang kontolku pun mulai tenang meski tetap dalam kondisi keras. Mbak Ratih pun mengurangi tempo hisapannya dan kemudian melepas kontolku dari mulutnya. Ia tersenyum nakal ke arahku dan kemudian dengan telaten membersihkan sisa peju yang tercecer diperutku dengan lidahnya.

Mbak ratih kembali menggodaku. Memainkan kontolku dan kemudian menegakkan tubuhnya sambil menggulung rambutnya dengan kedua tangan. Entah itu dilakukan karena merasa risih dengan rambutnya yang tergerai sebahu atau memang sengaja ingin menggodaku.

“Wooww seksi sekali kamu mbak” teriakan hatiku yang memicu kontolku kembali berkedut seolah masih bergejolak mencari kenikmatan.

Aku tak kuasa menahan nafsuku yang mulai bangkit kembali. Kutarik tubuhnya hingga sekarang posisinya seolah duduk bersimpuh diatas perutku. Kuremas perlahan pantatnya, kumainkan telunjukku di lubang anusnya sampai tubuhnya menggeliat. Kemudian dia meraih kontolku dan memasukannya perlahan ke liang kewanitaannya yang ditumbuhi bulu lebat.

“Sleeeppp” seiring kontolku menelusup perlahan di liang kewanitaan.

kedua paha kecilnya seakan sangat kuat mengangkat tubuhnya dalam posisi bersimpuh. Tak selang berapa lama, ia merubah posisi menjadi berjongkok. lubang memeknya tampak mengkilat dan menganga, sesaat kemudian ia membimbing batang kontolku untuk kembali menelusup di dalam lubang memeknya. Kedua telapak tangannya bersandar pada perutku seiring gerakan “upside down” yang dilakukannya.

Mungkin karena posisi itu cukup menguras energi, ia pun berebahkan dirinya di atas tubuhku. Batang kontolku semakin menyusup ke dalam seiring dengan gerakan pinggulnya yang semakin cepat hingga tubuh kami pun sama-sama kaku saat lahar panasku menyembur. Kulihat kedua bola matanya naik keatas seolah merasakan sesuatu yang amat dahsyat.

Rasa lelah bercampur nikmat membuat kami berdua masih terhanyut hingga kami masih saling berpelukan dan tertidur.

“Mas Adam bangun mas” katanya membangunkanku.

Aku mencoba membuka mata meski tubuhku masih terasa capek dan lemas.

“Ayo bangun mas Sudah sore” katanya lagi.

Penuh Basah

“Ha?” jawabku setengah kaget. Mbak Ratih tersenyum padaku. Kulihat di alroji swiss armyku menunjukkan pukul setengah 5 sore. Jam biasanya mbak Ratih memang bersiap pulang menunggu jemputan.

“Kopinya dimeja ya mas Oya besok apakah saya masih boleh datang mas?” tanyanya.

“Iya makasih mbak tentu boleh donk mbak tapi sebentar mbak” kataku. Aku mengambil dua lembar uang seratus ribuan dan kuberikan pada mbak Ratih.

“Uang apa ini mas?” tanya mbak Ratih heran.

“Buat beli oleh-oleh anak-anak mbak Ratih” jawabku.

“Beneran ini mas?” katanya senang.

“Iya mbak”

“Makasih ya mas”

“Tapi ini dulu donk” kataku sambil kuletakkan jari telunjukku di bibirku dan mbak Ratih pun paham dengan kode yang kuberikan.

Kami berdua lantas berciuman sejenak sebelum kemudian ia berlalu keluar menemui suaminya yang sudah menunggunya di luar.

Bola57 | Agen Live Casino | Agen Bola Piala Dunia | Judi Bola | Slot Game | Bandar Sabung Ayam
HOT PROMOTION DARI BOLA57 !!
•NEW MEMBER DEPOSIT 10%
•Bonus Rollingan 1,2% Live Casino (SBOBET)
•Bonus Rollingan 1% Live Casino (WM Casino)
•Bonus Cashback Up To 10% Sportsbook
•Dan Masih Banyak Promo Bonus Lainnya Yang Bisa Anda Dapatkan Per Minggunya.
•Informasi Lebih Lanjut Silahkan Hubungi CS
•Minimal Deposit & Withdraw Rp 50.000,-

Contact Bola57 :
LINE : bola57
WECHAT : bola57
WHATSAPP : +85577514899



Link Daftar Klik Di Bawah ini
Share:
KiosCasino